De Djawatan Forest : Petualangan Mistis Menuju Hutan Trembesi Banyuwangi
De Djawatan Forest : Petualangan Mistis Menuju Hutan Trembesi Banyuwangi
Perjalanan saya dari Taman Gandrung Terakota berlanjut menuju arah selatan Banyuwangi. Jaraknya sekitar 40 km, ditempuh kurang lebih 1 jam perjalanan dengan mobil. Jalanan cukup nyaman, diiringi pemandangan perkampungan, hamparan sawah, dan udara lembap khas daerah pegunungan setelah hujan. Tujuan berikutnya adalah De Djawatan Forest Banyuwangi, salah satu tempat yang sudah masuk dalam bucket list sejak lama.

Hutan De Djawatan
Saya sering melihat fotonya di internet, hutan dengan pepohonan besar menjulang, rimbun, dan berkabut. Banyak orang menyebutnya sebagai “Fangorn Forest”-nya Indonesia, sebuah referensi dari dunia Lord of The Rings.
Begitu mendekati gerbang area hutan, tersedia loket masuk untuk parkir dan sudah terdengar suara live musik dari dalam hutan tersebut. Saya pikir hutan ini masih menyimpan rasa mistis dalam keheningannya, namun irama musik sudah memecahkan kesunyian itu.

Letak Geografis De Djawatan Forest
De Djawatan terletak di Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Kawasan ini berada di wilayah dataran rendah selatan Banyuwangi, mudah diakses melalui jalan utama ke arah Jember. Lokasinya dikelola oleh Perhutani KPH Banyuwangi Selatan, sehingga kondisi hutannya sangat terawat. Ya terasa cukup jauh juga kalau dari tempat saya sebelumnya di Taman Gandrung Terakota yang ada di dataran tinggi. Untuk melihat seperti apa taman gandrung terakota bisa dilihat DISINI
Sejarah dan Karakteristik Hutan Trembesi
Hutan ini sudah ada sejak zaman Belanda dan dulunya digunakan sebagai penyimpanan kayu jati. Kini, kawasan tersebut berubah menjadi destinasi ekowisata berbasis konservasi. Yang membuat De Djawatan begitu unik adalah keberadaan lebih dari 800 pohon trembesi tua, sebagian berusia puluhan hingga ratusan tahun.
Pohon trembesi ini memiliki akar dan cabang yang meliuk dramatis, membentuk kanopi raksasa yang menutupi sebagian besar area. Inilah yang menciptakan atmosfer magis dan “fantasy-like” yang banyak digemari wisatawan dan fotografer. Area hutannya sendiri mencapai sekitar 3,8 hektare menurut catatan resmi .
Ketika saya berjalan masuk, sinar matahari yang menembus sela-sela daun menciptakan pola cahaya yang sangat indah. Aroma tanah basah, embusan angin, dan keteduhan pepohonan besar membuat suasana begitu menenangkan.


Daya Tarik De Djawatan Forest Banyuwangi
1. Pohon Trembesi Raksasa yang Ikonik
Ribuan akar, cabang tebal yang meliuk, dan kanopi hijau menciptakan lanskap yang sangat fotogenik.
2. Suasana Seperti Dunia Fantasi Banyak yang menyebutnya mirip hutan dalam film Lord of the Rings. Kabut pagi membuat suasana semakin dramatis.
3. Spot Foto Instagramable
Ada jalur setapak berkanopi trembesi, area akar dramatis, hingga spot foto yang dikelola secara resmi. Juga tersedia fotografer di lokasi
4. Ruang Konservasi Alam
Selain wisata, De Djawatan juga berperan sebagai area konservasi flora yang dilindungi.
Pohon trembesi ini memiliki akar dan cabang yang meliuk dramatis, membentuk kanopi raksasa yang menutupi sebagian besar area. Inilah yang menciptakan atmosfer magis dan “fantasy-like” yang banyak digemari wisatawan dan fotografer. Area hutannya sendiri mencapai sekitar 3,8 hektare menurut catatan resmi .
Ketika saya berjalan masuk, sinar matahari yang menembus sela-sela daun menciptakan pola cahaya yang sangat indah. Aroma tanah basah, embusan angin, dan keteduhan pepohonan besar membuat suasana begitu menenangkan.


Pengalaman Saya di De Djawatan
Saat kami memasuki aeral parkiran kendaraan, petugas penjaga tiket meminta biaya masuk kendaraan dan tiket masuk per orang. Biaya masuk untuk wisatawan lokal (nusantara) adalah Rp 10.000 per orang, sedangkan bagi wisatawan mancanegara dikenakan Rp 20.000. Untuk kendaraan, parkir roda dua dikenakan Rp 2.000, dan parkir mobil/roda empat Rp 5.000.
Sebelum memasuki hutan, saya sempat tanya ke petugas: “Kalau kami ingin mengambil foto, drone, atau membuat video, apakah dikenakan biaya tambahan?” Mereka bilang yadan saya menemukan daftar tarif seperti ini :
-
Foto pre-wedding: Rp 275.000
-
Menerbangkan drone (non-komersial / komersial, tergantung kebijakan): Rp 275.000
-
Shooting video klip: Rp 825.000
-
Shooting video biasa (non-klip): Rp 275.000
Saat saya memasuki area utama hutan, udara lembap langsung terasa menyapa. Daun-daun yang masih basah setelah hujan semalam menghadirkan aroma tanah yang sangat menenangkan. Meski datang di siang hari, suasana teduh membuat hutan seolah tidak pernah terlalu terang. Cahaya yang masuk melalui sela kanopi trembesi sangat lembut, menciptakan suasana yang cocok untuk menikmati momen secara perlahan.
Sebagai fotografer, banyak sudut yang menggoda mata. Namun kali ini, saya lebih memilih untuk menikmati perjalanan tanpa tergesa. Rasanya seperti berjalan di antara dua dunia alam liar yang masih terjaga dan ruang fantasi yang selama ini hanya saya lihat di film.
De Djawatan Forest Banyuwangi bukan hanya destinasi wisata, ini adalah pengalaman menyatu dengan hutan tua yang penuh karakter dan pesona alami. Disayangkan apabila datang di siang bolong, matahari akan menciptakan shadow yang cukup keras sehingga foto menjadi kurang maximal, saya sarankan untuk datang ke ke De Djwatan Forest Banyuwangi ini di pagi hari atau di sore hari.

Menggunakan Drone dan bayar dong... T-T
Perjalanan dari Taman Gandrung Terakota menuju De Djawatan Forest Banyuwangi menjadi salah satu pengalaman terbaik dalam trip keluarga kami di Jawa Timur. Kombinasi antara budaya, sejarah, dan keindahan alam Banyuwangi membuat destinasi ini sangat layak untuk dikunjungi.